Jumat, 21 Oktober 2011

Kongres Dibubarkan, 6 Tewas, Papua Memana


Lima tersangka ditahan, termasuk Ketua Dewan Adat Papua. Mereka dijerat pasal makar.

KAMIS, 20 OKTOBER 2011, 22:14 WIB
Anggi Kusumadewi
VIVAnews - Enam orang dilaporkan tewas dalam operasi pembubaran paksa Kongres Rakyat Papua III, yang dilanjutkan penyisiran oleh aparat keamanan gabungan TNI-Polri. Dua korban ditemukan lebih dulu di belakang markas Korem 172 PWY Padang Bulan Abepura, empat lainnya ditemukan kemudian di sekitar tempat pelaksanaan kongres.
Kongres Rakyat Papua berlangsung selama tiga hari di Lapangan Sepakbola Zakheus, Padang Bulan Abepura, Kota Jayapura, 17-19 Oktober 2011. Aparat mengambil aksi keras setelah peserta mendeklarasikan Negara Papua Merdeka. Di hari pertama, mereka juga mengibarkan bendera Bintang Kejora.
"Data yang kami peroleh, ditemukan empat orang warga sipil lagi yang meninggal dunia di sekitar tempat pelaksanaan acara Kongres Papua. Namun, identitasnya hingga kini belum diketahui secara pasti," kata Matias Murib, Wakil Ketua Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua, Kamis, 20 Oktober 2011.
Dua korban tewas pertama bernama Matias Maidepa, mahasiswa Umel Mandiri, dan Yacop Sabonsaba, anggota Petapa (Penjaga Tanah Papua).
Murib mengungkapkan 200 peserta kongres yang ditangkap mengaku disiksa aparat. "Mereka disiksa saat penangkapan."
Menurut dia, yang ditahan di Markas Polda Papua total berjumlah sekitar 300 orang. "Ratusan warga yang ditahan ada yang tidak terlibat dalam kongres. Mereka kebetulan lewat dan langsung diciduk," katanya.
Murib juga mengaku menerima laporan dari Manokwari bahwa ratusan aparat gabungan TNI/Polri bersenjata lengkap melakukan unjuk kekuatan. “Salah seorang warga bernama Martinus Yeimo dilaporkan tewas dibunuh anggota Brimob di Enarotali sehingga seantero Papua saat ini diliputi ketakutan," katanya.
Komnas HAM Papua, masih kata Murib, menyayangkan aksi represi aparat itu. "Komnas HAM Papua akan melakukan investigasi mendalam lalu mengupayakan mediasi antara masyarakat Papua dan Pemerintah Pusat di Jakarta untuk memenuhi rasa keadilan, yang mereka cari melalui Kongres dan forum-forum masyarakat asli Papua lainnya selama ini. Aparat kami minta segera menghentikan operasi penyisiran dan unjuk kekuatan yang berlangsung sejak kemarin sampai hari ini di seluruh tanah Papua." 
Setelah pidato Presiden
Rabu kemarin, dalam pidatonya usai pelantikan menteri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa negara tidak akan mentolerir kekerasan dan provokasi. Ia menegaskan, hukum harus ditegakkan.
Pagi SBY berpidato, sore hari Papua membara. 
Aparat gabungan TNI/Polri membubarkan paksa Kongres Papua III. Para tokoh Papua yang menghadiri kongres itu ditangkap. Total, lebih dari 300 orang diamankan. Tuduhan aparat buat mereka tak main-main: makar. 
Juru Bicara Polda Papua Kombes Pol. Wachyono mengatakan Kongres Papua III sudah melanggar aturan. Kongres dibuka dengan pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai simbol Papua Merdeka dan ditutup dengan deklarasi Papua Merdeka. “Ini tidak sesuai lagi dengan isi surat pemberitahuan yang diajukan sebelum kongres dimulai,” dia menjelaskan.
Karena itu, pasukan keamanan tanpa ampun menerobos masuk ke tengah kerumunan massa dengan kendaraan barakuda saat kongres memasuki tahap pembacaan rekomendasi yang berisi penolakan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aparat menembakkan peluru ke udara, membuat massa panik dan berlarian ke segala arah.
Kericuhan semakin meluas. Warga di sekitar lokasi kongres turut berlarian. Toko-toko memilih tutup untuk sementara. Abepura mencekam. 
Meski kongres telah dibubarkan, aparah masih terus berjaga-jaga di sekitar lokasi. Truk polisi juga hilir mudik dari lokasi kongres ke markas kepolisian untuk mengangkut para peserta yang dijaring.  
Wachyono menjelaskan penyelenggara Kongres Papua III telah memprovokasi masyarakat. “Terpaksa kami hentikan dan bubarkan,” katanya.
Ia menceritakan Kongres Papua I dan II yang berlangsung beberapa tahun sebelumnya, berjalan tertib. Awalnya, peserta Kongres III pun hanya menuntut pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Papua terkait adat-istiadat, bukan kemerdekaan. “Semula mau membicarakan soal adat, tapi ternyata di tengah kongres mereka menodainya dengan agenda-agenda yang memprovokasi,” kata Wachyono. 
Soal izin, Wachyono menjelaskan kepolisian awalnya memang memberikan izin. “Toh di kongres pertama dan kedua tidak ada masalah. Oleh karena itu kami putuskan: kami baru amankan jika kongres berjalan tidak sesuai dengan seharusnya.”
Kongres Papua III dihadiri sekitar 5.000 peserta dari berbagai daerah. Acara ini merupakan tindak lanjut dari Kongres Papua II yang digelar pada tahun 2000. Ada beberapa rekomendasi yang dihasilkan Kongres III ini. Salah satunya, merekomendasikan peninjauan kembali masuknya Papua ke Indonesia serta peninjauan kembali hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Kongres juga mengangkat Orkorus Yeboisembut sebagai Presiden Papua Barat, dan Edison Waromi sebagai Perdana Menteri.
Saat ini, Kepolisian Daerah Papua sedang memburu Ketua Panitia Kongres Papua, Selpius Obi. “Kami sedang memeriksa saksi-saksi untuk mengetahui ke mana dia lari. Kami lakukan penyidikan dan upayakan menangkap pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Wachyono.
Hingga berita ini diunggah, Kepolisian Daerah Papua telah menangkap 5 tersangka. “Sudah ada unsur-unsur pidananya,” kata Wachyono. 
Kelima tersangka itu adalah Ketua Dewan Adat Papua yang juga Presiden Republik Demokratik Papua, Forkorus Yaboisembut; tokoh Papua yang juga Perdana Menteri Republik Demokratik Papua, Edison Gladius Waromi; August Makbrawen Sananay Kraar; Dominikus Sorabut; dan An Gat Wenda.  Kelima tersangka bakal dijerat pasal makar dalam Undang Undang Darurat Tahun 1951.
Pengacara mereka, Gustac R. Kawer, mengatakan kliennya tidak bersedia menandatangani surat penahanan karena mereka merasa sudah mendapat izin menyelenggarakan kongres dari kepolisian.
Wachyono juga menyatakan pihaknya sudah melepas 300 orang yang sempat ditahan. "Karena tidak terbukti makar, mereka dilepas," jelasnya.
Menolak Papua Merdeka
Melihat situasi memanas, tokoh-tokoh adat Papua yang tergabung dalam keluarga pejuang Papua menggelar konferensi pers di Jakarta. Mereka menyatakan menolak rekomendasi Kongres Papua III.
“Kami menolak keras hasil Kongres Papua III yang mengatasnamakan rakyat Papua dan menyalahgunakan kesucian nilai-nilai adat rakyat Papua,” kata Ketua Umum Barisan Merah Putih, Ramses Ohee. 
Ramses merupakan tokoh adat dan salah satu ketua suku di Papua. Didampingi tokoh-tokoh adat Papua lain, dia menyatakan menentang berbagai gerakan yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. “Kongres Papua III hanya permainan sekelompok elit di Dewan Adat Papua yang tidak didukung oleh mayoritas masyarakat adat Papua dan Papua Barat. Adat telah dipermainkan dan disalahgunakan untuk kepentingan politik,” Ramses menuding.
Mereka juga menolak keputusan kongres yang mendeklarasikan Negara Federasi Papua Barat. Menurut mereka, pendirian itu adalah khayalan dari sekelompok orang di Dewan Adat Papua. “Pendirian suatu negara dengan presiden, perdana menteri, dan struktur kabinetnya adalah jelas-jelas tindakan makar yang berlawanan dengan aturan hukum NKRI,” kata Ramses.
Toh begitu, Ramses meminta pemerintah agar menangani persoalan Papua dengan arif, bukan dengan mengedepankan pendekatan kekerasan. "Ada persoalan ketidakpedulian di Papua. Jangan salahkan mereka, karena mereka adalah anak-anak muda milik kita semua," kata Ramses. Ia mengimbau pemerintah pusat untuk berupaya meningkatkan kesejahteraaan rakyat Papua, agar mereka bisa segera hidup aman, tenteram, dan berkecukupan. (Laporan: Banjir Ambarita, Papua | kd)

Gubernur: Kongres Rakyat Papua Melenceng


Gubernur Papua mempersilakan rakyatnya menggelar kongres, asal sesuai undang-undang.

JUM'AT, 21 OKTOBER 2011, 14:16 WIB
Eko Huda S
VIVAnews -- Enam orang dikabarkan tewas saat pembubaran paksa yang dilakukan oleh aparat terhadap Kongres Papua III yang berlangsung di Padang Bulan Abepura, Kota Jayapura, Rabu 19 Oktober 2011. Selain itu, beberapa orang ditangkap karena kongres itu dianggap bertujuan melepaskan papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Maka Gubernur Papua, Syamsul Rivai, mempersilakan warganya untuk menyampaikan pendapatnya, termasuk menggelar kongres. Namun, dia meminta masyarakat Papua untuk mamatuhi undang-undang.

"Silahkan berkumpul, mengeluarkan pendapat itu sah-sah saja. Tapi jangan menyinggung NKRI, jangan melenceng dari aturan yang berlaku, apalagi mencoba mendirikan negara dalam negara," kata Syamsul Rivai di kantornya, Papua, Jumat 21 Oktober. "Jika itu yang terjadi maka akan ditindak tegas."

Menurut dia, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final dan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Seluruh rakyat, termasuk warga Papua, harus menjaga keutuhan negara. "NKRI wilayahnya dari Sabang sampai Merauke. Jika ada yang mencoba mengganggunya, seluruh rakyat Indonesia akan menghadang, dan tentu yang berada di Papua menjadi front pertama yang menghadangnya," tegas dia.

Dia menambahkan, sebenarnya pemerintah sudah sangat toleran dengan pelaksanaan Kongres Rakyat Papua itu. Namun, karena dinilai sudah melenceng dengan mengibarkan Bendera Bintang Kejora dan mendeklarasikan Negara dan pemerintahan, aparat tidak bisa tinggal diam. "Pemerintah sangat menghargai kebebasan berpendapat, tapi jika sudah melenceng jauh tidak mungkin diam saja," paparnya.

Menurut dia, tindakan tegas dari aparat Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada kongres itu sudah tepat dan sesuai dengan prosedur. "Mereka yang ditangkap dan saat ini diproses adalah orang-orang yang diduga memiliki pengaruh dalam kongres, melanggar aturan dan perundang-undangan. Jadi tindakan aparat sudah sesuai ketentutan yang berlaku, tutur dia.

Sedangkan, terkait adanya korban jiwa dalam pembubaran itu dia anggap hanya sebagai dinamika di lapangan saja. "Jatuhnya korban yang tidak diinginkan, hanya dinamika lapangan saat penanganan," katanya.

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Pol BL Tobing mengatakan aparat terpaksa melakukan pembubaran kongres karena sudah melenceng dan mencoba merongrong NKRI.  "Kami sudah memberikan toleransi," kata dia.

"Kongres berjalan tanpa ada surat izin, kemudian hari pertama terjadi pengibaran bintang kejora, kemudian malah mencoba mendirikan sebuah negara. Ini kan jelas melanggar, tentu harus ditindak," ujarnya.
Minta Bukti
Terkait kabar tewasnya enam orang dalam peristiwa itu, BL Tobing meminta bukti jika mereka tewas akibat ditembak oleh aparat. Dia juga mempersilakan Komnas HAM untuk turun ke lapangan mengecek kebenaran informasi itu. "Kalau memang ada 6 orang menjadi korban dan diduga ditembak, silakan serahkan datanya. Jangan hanya katanya-katanya," kata dia.

"Kalau memang itu ditembak, tunjukan bukti itu dilakukan aparat, nanti oknumnya akan diproses."

Sedangkan, menurut Wakil Ketua Perwakilan Komnas HAM Papua, Matias Murib, tim Komnas HAM pusat segera turun melakukan investigasi terkait aksi pembubaran dan tewasnya sejumlah warga dan peserta kongres. "Minggu depan, komnas HAM pusat akan turun melakukan penyelidikan," ucap dia.

Keenam orang yang dikabarkan tewas itu adalah James Gobay 25, Yosaphat Yogi (28), Daniel Kadepa (25), Maxsasa Yewi (35), Yacob Samnsabra (53), Pilatus Wetipo (40). Sedangkan yang luka-kula akibat dipukul dan dipopr aparat, Ana Adi (40), Miler Hubi (22), Matias Maidepa (25).
Laporan: Banjir Ambarita l Papua
• VIVAnews

Selasa, 27/09/2011 10:19 WIB Polisi Temukan Bom Rakitan Keempat di Ambon






Jakarta - Bom rakitan lagi-lagi ditemukan di Ambon. Kali ini, bom rakitan keempat diletakkan di depan sebuah gereja di Karang Panjang, Ambon.

Bom rakitan tersebut ditemukan pada Senin 26 September 2011 sekitar pukul 20.30 Wita.

"Masih kita selidiki, tapi bomnya tidak meledak," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam, saat dihubungi wartawan, Selasa (27/9/2011).

Belum diketahui siapa pelaku yang menaruh bom tersebut. Namun, berdasarkan informasi bom itu sengaja dilempar orang yang mengendarai sepeda motor.

"Semuanya masih diselidiki," imbuhnya.

3 Bom rakitan sebelumnya ditemukan di Ambon. Bom tersebut ditemukan di Karang Panjang, Terminal Mahardika, dan di depan Gereja Maranatha.

2 Dari 3 bom itu meledak. Beruntung, tidak ada korban tewas. Bahkan bom yang ditemukan hampir mirip yakni terdiri dari pipa besi berdiameter 4 cm dan panjang 10 cm, bubuk black powder, dan korek api.

"Sepertinya pelaku adalah orang yang sama, tim Gegana masih menyelidiki," ujar Anton.

Beberapa peristiwa yang seakan-akan ingin menghilangkan "Damai" di Indonesia


PBNU: Selesaikan Gejolak Papua dengan Damai

Said Aqil menilai cara kekerasan tak bisa menyelesaikan konflik di Papua.

JUM'AT, 21 OKTOBER 2011, 18:35 WIB
Eko Huda S, Mohammad Adam
VIVAnews -- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj mengimbau pemerintah untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi gejolak di bumi Papua. Menurut dia, jalan damai akan lebih efektif dibanding penyelesaian dengan cara kekerasan atau militer.

"Pemerintah tidak boleh satu pihak, civil society harus dilibatkan, menggunakan pendekatan kemanusiaan. Mereka itu poerlu dihargai kalau saya kira," kata Said Aqil di kator PBNU, Jakarta Pusat, Jumat 21 Oktober 2011.

Sebelumnya, enam orang dikabarkan tewas saat terjadi pembubaran paksa atas Kongres Papua III yang berlangsung di Padang Bulan Abepura, Kota Jayapura, Rabu 19 Oktober 2011. Aparat terpaksa membubarkan kongres itu karena dinilai telah menyimpang dan ingin mendirikan negara di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Said Aqil, cara-cara kekerasan seperti itu tidak menyelesaikan masalah. Menurut dia, api dendam akan terus membara di tengah masyarakat akibat kekerasan tersebut. Dia menyontohkan, saat pemerintah melakukan pemekaran wilayah Papua, masyarakat setempat tidak dilibatkan.

Sebenarnya, tambah dia, masyarakat Papua butuh lebih dihargai dan diperhatikan. "Saya kira ada jalan keluar kalau mereka dihargai," kata dia.
• VIVAnews

Minggu, 16 Oktober 2011

Catatan Institut Dialog Antariman dalam peranannya untuk menciptakan perdamaian


Catatan 20 Tahun Institut Dialog Antariman

OPINI | 15 October 2011 | 15:5536  Nihil

Di tengah berbagai kontestasi kekerasan massal yang mengeras dalam kemasan “perbedaan agama” dan kasus-kasus pembiaran aksi-aksi sepihak pelarangan aktivitas beribadah dan penutupan/penyegelan tempat[-tempat] ibadah penganut agama tertentu, sejumlah pemerhati dan aktivis perdamaian dan kebebasan beragama berkumpul untuk membincangkan masalah-masalah tersebut dalam format konferensi nasional yang digelar oleh Institut Dialog Antariman (DIAN) atau Interfidei Yogyakarta. Rangkaian acara workshop dan konferensi ini diselenggarakan sebagai bagian dari evaluasi 20 tahun Interfidei bergelut dengan masalah-masalah hubungan antariman di Indonesia. Sikap yang bermunculan pun beraneka ragam. Ada yang pesimis, ada yang optimis. Bahkan ada yang nyaris “frustrasi”, kendati tak sedikit yang tetap menaruh harap besar akan transformasi hubungan antariman di Indonesia pada masa depan.
Sikap pesimis mencuat karena setelah berkiprah selama 20 tahun bersama-sama dengan seluruh jejaring yang dibangunnya, kegairahan komunikasi antariman seolah-olah tetap membentur “benteng kokoh” sektarianisme agama-agama. Aksi-aksi kekerasan dengan manipulasi slogan-slogan dan simbol-simbol agama kian mengeras dan seolah tak tersentuh oleh tangan-tangan hukum yang menjadi kewajiban negara (pemerintah) sebagaimana amanat konstitusi republik ini. Wajah negeri ini kian carut-marut dengan apa yang oleh Mark Juergensmeyer dalam Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence disebut sebagai “cosmic war” (hlm. 145-163). Jangankan merayakan, menerima perbedaan saja sudah menjadi sesuatu yang haram.
Namun demikian, di tengah gemuruh kekerasan dan pertarungan kekuasaan yang menyeret agama-agama untuk turut bermain api di dalamnya, ada sejumlah lain optimisme bahwa dinamika yang telah terbangun selama ini akan membuahkan hasil positif kendati prosesnya mesti terus dikawal dengan konsistensi dan komitmen sejati. Resistensi terus dibangun dengan tetap menuturkan narasi-narasi perdamaian terhadap tendensi mengkooptasi kesadaran publik dengan narasi-narasi “kegilaan massa”, “pembiaran negara”, “pelecehan konstitusi negara”, “separatisme”, “pembisuan suara-suara marjinal”, dan lain-lain. Pelan dan melelahkan, tetapi tetap dilakukan kendati dengan energi yang kian terengah-engah.
Dialog Antariman: Menyerap Sumber-sumber Energi Baru
Perhelatan 20 tahun Interfidei Yogyakarta diartikulasikan dalam bentuk-bentuk evaluasi kritis, kritik-diri, dan penyibakan orientasi masa depan dialog antariman di Indonesia. Empat sesi panel diskusi yang digelar secara berurutan seakan-akan hendak meringkas 20 tahun perjalanan Interfidei sebagai narasi bersama yang masih penuh dengan lubang-lubang tutur yang perlu ditinjau dan dilengkapi dari waktu ke waktu.
Seluruh narasi itu pun mesti dilihat sebagai sebentuk kegalauan ketika ternyata desain epitemologis dan teologis antariman itu kerap dibenturkan dengan narasi besar negara-teater. Alur narasi dialog antariman tak jarang terinterupsi oleh sisipan-sisipan fakta kekerasan yang tampaknya makin membelit-mengusut susah diurai. Sisipan-sisipan itu begitu mengganjal narasi dialog antariman ketika aktor-aktor yang melenggang di pentas realitas adalah representasi kekuatan-kekuatan negara yang makin bebal menyikapi karakter keindonesiaan yang serba-majemuk ini.
Seberapa jauh gerakan dialog antariman tetap konsisten untuk terus berkutat menghadapi gempuran-gempuran aktor negara ini? Atau, masihkah tersisa energi untuk terus menantang negara sambil terus menari mengikuti ritme dinamika yang dideterminasi oleh negara itu sendiri? Ataukah mesti diperhitungkan dengan cermat terobosan alternatif yang melaluinya gerakan dialog antariman menentukan sendiri ritmenya dengan penyasaran domain-domain lokalitas yang kerap tak tersentuh negara? Sosok sekaliber Prof. Syafii Ma’arif pun pada akhirnya berujar, “Kalau seperti ini, saya rasa lama sekali. Kita perlu pendekatan yang strategis dan cepat.”
Nyaris berada di titik kritis “frustrasi” ternyata muncul pendekatan-pendekatan yang lebih membumi. Pendekatan-pendekatan dialog antariman yang dilakukan oleh beberapa sahabat seolah menjungkirbalikkan pakem-pakem dialog antariman yang kerap dicurigai hanya menjadi kegenitan elitis yang terlena dalam diskusi-diskusi “sejuk” di hotel-hotel mewah. Farcha Ciciek, misalnya, menggagas pendekatan dialog antariman yang dimulai dengan menghidupkan kembali dunia bermain anak-anak dalam kemeriahan tradisi-tradisi lokal sebagai salah satu gerakan menancapkan kesadaran akan kekayaan identitas yang mesti dirangkul, bukan dimusuhi atau diberangus demi sebuah “kebenaran” yang pongah.
Ciciek mendasarkan seluruh pendekatannya pada hasil penelitiannya di sekolah-sekolah umum yang makin menampakkan wajah sektarianistik. Indoktrinasi-indoktrinasi religius pada kenyataannya kian mempertegas garis-garis demarkasi identitas agama dan gender. Dan itu semua berlaku di sekolah-sekolah umum. Ciciek, misalnya, menemukan bahwa siswi-siswi pada beberapa SMU dilarang mengikuti festival seni suara berdasarkan “ajaran” bahwa suara perempuan adalah aurat, sehingga tidak boleh diperdengarkan secara publik. Ini yang olehnya dilihat sebagai “pembiusan perempuan oleh agama”. Padahal hakikat agama adalah pembebasan manusia dari segala bentuk anasir dehumanisasi.
Demikian pula pendekatan “story-telling” yang digunakan sebagai strategi meredam gempuran isu-isu provokatif ternyata menjadi salah satu modal sosial masyarakat lokal di Ambon untuk tetap mengurung potensi merebaknya kericuhan pada 12 September 2011 lalu. Seluruh ruang media dieksplorasi untuk menghadirkan narasi-narasi perdamaian yang sangat manusiawi ke ranah-ranah publik. Narasi-narasi perdamaian dalam diskursus masyarakat lokal itu sering tenggelam ditelan gelombang pemberitaan media massa yang lebih memilih angle “konflik” daripada perdamaian. Konstruksi “konflik” pun kian terinternalisasi dan menaklukkan kesadaran bahwa orang sudah jenuh dengan pertikaian yang hanya berujung pada “lose-lose solution”. Seluruh energi sosial terkuras habis dalam konstruksi kebencian yang tampaknya dilanggengkan dengan berbagai pembiaran oleh negara.
Menyibak Kabut Masa Depan Dialog Antariman
Dengan seluruh eksperimentasi yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman riel tersebut, maka refleksi 20 tahun Interfidei ini juga menyibak kabut kegelisahan untuk menerawang masa depan dialog antariman di Indonesia. Harapan besar untuk makin mematangkan kesadaran dan praksis dialog antariman hingga ke tingkat basis atau akar-rumput terbentang luas justru dengan melihat dari “kecerdasan lokal” masyarakat basis dalam mengelola perbedaan identitas yang inheren dalam realitas sosial hidup mereka sehari-hari.
Stigma “rakyat bodoh dan perlu diajar” sebenarnya telah didekonstruksi oleh kearifan-kearifan lokal masyarakat itu sendiri. Maka tugas para pembelajar dan aktivis perdamaian dan dialog antariman kemudian tidak lagi “menggurui” dan “melatih” melainkan bersama-sama mereka menemukan modal-modal sosial itu di dalam kehidupan masyarakat itu sendiri; mengelolanya sebagai akumulasi energi positif untuk makin menghargai kehidupan dengan cara menghargai keberlainan (otherness). Kedewasaan terbentuk bukan melalui ruang-ruang pelatihan yang menjenuhkan, tetapi justru pada ruang-ruang sosial yang mempertemukan mereka dalam konteks kemanusiaan riel yang saling membutuhkan keberlainan itu. Semoga dengannya agama-agama tidak hanya tersumbat menjadi “presentasi” dalam seminar-seminar atau konferensi-konferensi belaka, tetapi mengalir sebagai “re-presentasi” modal-modal sosial yang diawetkan dalam struktur kematangan masyarakat basis.

Artikel BBeberapa artikel yang berbicara tentang "Damai"


Artikel Bali - Anatta Gotama

APAKAH KITA CINTA DAMAI?
Posted by A on 2007-02-20 [ print artikel ini | dilihat 985 kali ]



Serenity is ours when we allow the angels to quiet the turbulent forces of life
and leave our souls in deep peace and stillness.

~Terry Lynn Taylor, "Angel Days".

Secara naluriah sesungguh kita cinta damai. Kecintaan kita akan kedamaian kita ekspresikan dalam berbagai cara menurut watak dan bakat kita masing-masing. Ada yang melalui tulisan, karya seni dalam berbagai bentuk dan medianya, ungkapan-ungkapan kecil maupun ucapan- ucapan selamat bagi para sahabat, handai-taulan serta orang-orang diseputar kita. Sekurang-kurangnya, kedamaian hati kita, kita wujudkan dalam sekulum `senyum'.

Dalam suasana batin yang penuh kedamaian, berbagai inspirasi, kreativitas dan ide-ide jenial bermunculan; suasana batin mana sesungguhnya amat kondusif bagi kesuksesan kita di dalam menjalani hidup kita. Sebaliknya kemarahan, kebencian dan dendam meniadakan semua itu, menguburnya dalam-dalam.

Para Nabi umat manusia, menemukan kembali ajaran luhur-Nya melalui Samadhi, yang diawali oleh suasana batin damai penuh welas asih. 
Memang; di jaman dan lingkungan seperti sekarang ini, suasana batin damai menjadi sedemikian sulitnya untuk dicapai. Padahal sesungguhnya itu adalah tabiat hakiki kita. Bagi sementara kita bahkan kedamaian hati telah sedemikian lamanya terkubur, sedangkan bagi yang lainnya mesti berupaya sekuat daya untuk menggali dari kuburnya. Sungguh ironis sekaligus menyedihkan; kita seakan telah kehilangan tabiat hakiki kita yang penuh kedamaian. Kenapa demikian? 
Apakah yang telah menyembunyikannya dari kita?

Sikap yang cenderung memandang ke luar, kecenderungan untuk mempersalahkan pihak lain dan mencari kambing-hitam, berdalih dengan berbagai alasan atas perbuatan kita yang keliru, adalah sikap-sikap yang amat potensial mengubur kedamaian hati kita secara lebih dalam lagi. Sebaliknya memandang ke dalam, menemu-kenali kekurangan dan kebodohan kita sendiri, serta berupaya mengikisnya dengan bersungguh- bersungguh, secara pasti akan membangkitkannya lagi dari liang kubur yang kita buat sendiri. Umumnya upaya positif-konstruktif ini, bagi sementara orang, mesti dipelajari dan dilatih; walaupun bagi yang lain tidaklah sesulit itu untuk membangkitkannya.

Seorang bijak, suatu ketika pernah menyindir kita dengan
ungkapan: "Galilah kuburmu sendiri, sebelum kamu benar-benar mati." 
Sindir spiritual yang mungkin terdengar agak nyeleneh bagi telinga kita, beliau ungkapkan setelah melakukan bagi diri beliau sendiri selama belasan bahkan puluhan tahun dengan amat tekun dan tekad yang membaja. Menggali dan menggali terus-menerus ke dalam batin beliau, telah melahirkan ungkapan sederhana.

Menyadari bahwasanya kita adalah makhluk yang cinta damai, adalah titik-tolak dimana kita mengawali penggalian itu. Untuk persiapannya, tergantung `bekal' yang telah kita punyai; jadi amat variatif antara orang yang satu dengan yang lainnya. Namun titik- tolaknya tetap sama, yakni Kesadaran Pribadi.

Denpasar, 7 Juni 2000.
____________________





Kesusahan (rasa susah), dan sebanganya, kita semua telah tahu, membuat dan memberikan beban kepada hidup kita, sehingga kita merasa berat, lelah, dan ingin terbebas darinya.
Kesenangan (rasa senang), kebehagiaan (rasa bahagia) dan sebangsanya, ternyata juga merupakan beban bagi hidup kita. Mengapa demikian? Karena dengan menikmati atau merasakan rasa bahagia itu – yang memang merupakan dambaan setiap orang -, kita ingin mempertahankan kebahagiaan kita itu. Usaha-usaha maupun upaya-upaya untuk mempertahankan tersebut sudah merupakan kerja berat – beban yang melelahkan! Belum lagi kalau kita gagal mempertahankannya, kebahagiaan tersebut berubah menjadi kekecewaan, kekesalan, kesusahan, yang kembali lagi itu jelas merupakan beban yang tak menyenangkan bagi hidup kita!
Betapa rentannya kebahagiaan semacam ini, betapa goyahnya dia, yang demikian mudah berubah, laksana bumerang beban!
Lalu baggaimana agar kita benar-benar bisa menikmati dan merasakan hidup yang damai, yang tanpa beban dan ancaman beban itu?
Caranya, kita harus bisa untuk :
  1. MENGERTI dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi itu.
  2. MENERIMA dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi itu.
  3. MELEPASKAN atau TIDAK TERIKAT, dengn apa yang terjadi itu.
Dengan begitu, kita akan benar-benar merasakan KEDAMAIAN, bukan lagi sekedar KEBAHAGIAAN semacam itu, kebahagiaan yang bersyarat atau berkondisi!

Pemulihan Batin Di PDKK Ratu Damai

Seorang Worship Leader (WL) bersaksi. Bahwa ia dirundung kekesalan. Sejak kemarin malam, clash dengan isteri, pagi-pagi ribut di kantor,tapi ia masih bisa menahan diri. Sampai di rumah, ia melihat anak-anaknya berkelahi dan kontan tangannya melayang, walau pun ia sempat menyesal. Jam empat sore ia dapat SMS untuk melayani di PD. Ia bertekad untuk tidak datang karena jiwanya tertekan.


Seorang pengurus PD kesal.Sudah beberapa kali ia mundar mandir dari rumah ke tempat ibadat. Banyak orang yang belum datang dan pesertanya sedikit.


Seorang pemain keyboard didera kecewa, karena hadiah dapat mobil hanya tipuan belaka.Tapi ia berusaha untuk suka cita, berdoa, dan bersyukur.


Hari ini Selasa 27/9, Bram Wongkar memberikan senjata pamungkas untuk mengobati luka-luka batin yang menyebabkan amarah, sedih, kesal, dan kecewa. Ia memberikan contoh ada dua orang bersahabat yang kelihatan akrab/lengket seperti perangko. Mereka mendadak berpisah dan ia menuduh temannya mulut ember dan mau rebut pacarnya. Bram menganjurkan untuk melupakan saja perkara itu.


"Enak saja loe," sergahnya. Seorang yang mengalami luka batin terjebak dalam rasa marah, bersalah dan sedih. Jiwanya terbeban karena sulit mengampuni. Berdoa Bapa Kami saja tidak nyaman. Ada hambatan psikologis.


Adaempat penyebabnya:


1.Saya tahu, dia tahu; 2.Saya tahu, dia tidak tahu. Contoh: Orang lain tidak tahu saya takut naik motor, karena trauma kecelakaan yang mengharuskannya masuk RS sampai 40 hari. 3. Saya tidak tahu, orang lain tahu. Contoh: Ada anak yang benci lihat wajah ibunya dan suka berbantah. Dalam konselling, ibunya menjelaskan bahwa sejak dalam kandungan, ibu ingin membuang (aborsi) anaknya. 4.Saya tidak tahu, orang lain tidak tahu. Contoh: seorang aktivis PD segan ke daerah karena takut naik pesawat.


Victor Frankle menekankan perlunya relasi dengan orang lain, menolak, proaktif dalam retret dan fase pembebasan.


Ajaran Yesus yang indah untuk saling mengampuni." Kalau kamu tidak mau mengampuni orang lan, Bapamu di sorga juga tidak mau mengampunimu." Robert de Grandis mengajar doa pelepasan/pengampunan: "Dalam Nama Yesus, saya mengampunimu (sebutkan nama). Bebaskan saya dari kebencian dan dendam." Hiruplah nafas Yesus yang memulihkan.Ganti dendam dengan buah Roh.


Umat diajak mempraktekkan hal ini dengan mengulang-ulang lagu "Mari masuk," dan "Mengampuni, mengampuni lebih sungguh karena Tuhan Yesus telah mengampuni lebih dulu."


(Tomas Samaria)


Islam Berarti Damai, tidak Ada Hubungannya dengan Teror



"Kami mencoba untuk membawa gambar yang indah dari Islam. Islam berarti damai. dan tidak ada hubungannya dengan teror.

Reported by: Alex Hinckley

Peringatan peristiwa 11 September ke 10 sekarang hanya sekitar satu minggu lagi dan banyak organisasi mengadakan acara untuk mengingat nyawa-nyawa yang hilang dan mempromosikan perdamaian dan pemahaman. Satu kelompok lokal menghabiskan sabtu ini dengan mengadakan donor darah untuk menyelamatkan nyawa.

Komunitas Muslim mengambil waktu untuk menyebarkan perdamaian dan menghilangkan streotif yang salah tentang Islam. banyak umat Islam mengatakan kepada Berita 8 mereka secara pribadi disalahkan atas serangan teroris terburuk di Amerika Serikat. Untuk alasan inilah mereka membuat suatu misi untujk menyebarkan kebenaran.

Pada hari sabtu, Komunitas Muslim Ahmadiyah mengadakan sebuah acara donor darah. disana mereka memiliki kesempatan untuk menjelaskan arti Islam sebenarnya.

Mubarak Bashir mengatakan, stigma itu tidak benar, "kami hanya ingin orang tahu bahwa Islam secara harfiah berarti damai. Tidak ada hal seperti teroris Islam. jika seorang mengaku muslim tetapi mereka melakukan aksi teror, mereka adalah Islam secara nama tapi tidak dalam perbuatan."
Untuk mengkonter stereotif itu dan mengingat kehidupan yang melayang, Komunitas Muslim Rochester mengadakan donor darah. Bashir menjelaskan, "Cara terbaik adalah mengumpulkan 10.000 kantong darah dan akhirnaya menyelamatkan nyawa sebanyak 30.000?

Puluhan pendonor memberikan darah dan selebihnya mereka bisa mempelajari lebih banyak tentang Islam dan tata cara hidup Muslim.

robert Oliver, baru saja masuk Komunitas Islam beberapa bulan lalu. dia membuat misinya untuk menyebarkan kebenaran. oliver mengatkan, "sungguh disayangkan, saya pikir peristiwa 11 septermber telah menciptakan citra negatif Islam. dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk menaruh citra positif dari pada hal-hal untuk perubahan.

Pusat bekarja sepanjang tahun mengadakan edukasi bagi orang-orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya Islam. Ahmad menambahkan: "Kami mencoba untuk membawa gambar yang indah dari Islam. Islam berarti damai. dan tidak ada hubungannya dengan teror.



Menemukan Kedamaian
Oleh: Andre Wongso
Senin, 24-Januari-2011
Seringnya terjadi kerusuhan, kekisruhan, ketidakpastian, ketidakadilan, bencana alam, barangkali menjadi indikasi kedamaian suatu negara sedang terganggu. Dan kebetulan indikasi itu yang belakangan sering terjadi di negara kita. Belum tentu kita setuju kalau ada orang yang menyebutkan negara kita termasuk ke dalam negara yang kurang damai meskipun lembaga pemeringkat menempatkan Indonesia di posisi ke-67 dalam hal tingkat kedamaian dari 149 negara yang disurvei.
Lembaga itu adalah Institute for Economic and Peace. Mereka mengelompokkan negara-negara berdasarkan sejumlah indikator. Beberapa indikatornya antara lain peperangan yang terjadi di negara itu baik antarkomponen masyarakatnya atau berperang dengan negara lain, ketidakstabilan politik, potensi serangan teroris, jumlah pembunuhan, tingkat kriminal, jumlah orang yang dipenjara, dan sebagainya. Meski rinci menyimpulkan suatu negara sebagai negara damai, kurang damai, atau tidak damai dalam ranking Global Peace Index (GPI), hal ini masih bisa diperdebatkan. Toh, tiap orang punya cara sendiri menempatkan dirinya merasa damai dalam suatu lingkungan yang tidak menentu sekalipun.


Coba kita lihat peringkat GPI 2010. Urutan pertama hingga lima diduduki oleh Selandia Baru, Islandia, Jepang, Austria, dan Norwegia. Di antara negara-negara Asean, negara "paling damai" adalah Malaysia (urutan ke-22) dan Singapura (urutan ke-30). Setelah membaca itu, sepertinya kita akan segera berdebat.


Teman-teman yang Berbahagia,


Tadi pagi pada talkshow di Radio Sonora, saya membahas topik mengenai kedamaian ini di mana saya membawakan cerita ilustrasi yang menarik (judul: Kedamaian Hati). Seorang raja mengadakan lomba melukis untuk melihat bagaimana rakyatnya menggambarkan kedamaian melalui lukisannya. Sang raja memilih karya yang melukiskan langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai yang telah mereda. Namun di sana ada seekor burung yang merasa tak terganggu dan tetap mengerami telur-telurnya, untuk menetaskan kehidupan baru. Ia pun mengemukakan alasannya kenapa memilih lukisan itu sebagai pemenang.


Menurut sang raja, kedamaian bukan berarti kita harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan, atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai. Kedamaian hati adalah kemampuan menjaga keseimbangan dan kebijaksanaan di segala situasi dan tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Dan itu tergambar dari sikap si burung.


 


Karena itu, mampu tetap merasa damai di tengah "kekacauan" atau situasi yang riuh rendah menuntut kedewasaan diri kita saat menjalaninya. Memang tak mudah dan perlu latihan berkali-kali agar hati kita bisa menemukan kedamaian dalam situasi seperti itu.


Mari, kita jaga hati dan pikiran sendiri agar selalu tenang dan damai sehingga kebahagiaan akan menjadi milik kita selamanya.


Salam sukses luar biasa!