Artikel Bali - Anatta Gotama
APAKAH KITA CINTA DAMAI?Posted by A on 2007-02-20 [ print artikel ini | dilihat 985 kali ]
Serenity is ours when we allow the angels to quiet the turbulent forces of life
and leave our souls in deep peace and stillness.
~Terry Lynn Taylor, "Angel Days".
Secara naluriah sesungguh kita cinta damai. Kecintaan kita akan kedamaian kita ekspresikan dalam berbagai cara menurut watak dan bakat kita masing-masing. Ada yang melalui tulisan, karya seni dalam berbagai bentuk dan medianya, ungkapan-ungkapan kecil maupun ucapan- ucapan selamat bagi para sahabat, handai-taulan serta orang-orang diseputar kita. Sekurang-kurangnya, kedamaian hati kita, kita wujudkan dalam sekulum `senyum'.
Dalam suasana batin yang penuh kedamaian, berbagai inspirasi, kreativitas dan ide-ide jenial bermunculan; suasana batin mana sesungguhnya amat kondusif bagi kesuksesan kita di dalam menjalani hidup kita. Sebaliknya kemarahan, kebencian dan dendam meniadakan semua itu, menguburnya dalam-dalam.
Para Nabi umat manusia, menemukan kembali ajaran luhur-Nya melalui Samadhi, yang diawali oleh suasana batin damai penuh welas asih.
Memang; di jaman dan lingkungan seperti sekarang ini, suasana batin damai menjadi sedemikian sulitnya untuk dicapai. Padahal sesungguhnya itu adalah tabiat hakiki kita. Bagi sementara kita bahkan kedamaian hati telah sedemikian lamanya terkubur, sedangkan bagi yang lainnya mesti berupaya sekuat daya untuk menggali dari kuburnya. Sungguh ironis sekaligus menyedihkan; kita seakan telah kehilangan tabiat hakiki kita yang penuh kedamaian. Kenapa demikian?
Apakah yang telah menyembunyikannya dari kita?
Sikap yang cenderung memandang ke luar, kecenderungan untuk mempersalahkan pihak lain dan mencari kambing-hitam, berdalih dengan berbagai alasan atas perbuatan kita yang keliru, adalah sikap-sikap yang amat potensial mengubur kedamaian hati kita secara lebih dalam lagi. Sebaliknya memandang ke dalam, menemu-kenali kekurangan dan kebodohan kita sendiri, serta berupaya mengikisnya dengan bersungguh- bersungguh, secara pasti akan membangkitkannya lagi dari liang kubur yang kita buat sendiri. Umumnya upaya positif-konstruktif ini, bagi sementara orang, mesti dipelajari dan dilatih; walaupun bagi yang lain tidaklah sesulit itu untuk membangkitkannya.
Seorang bijak, suatu ketika pernah menyindir kita dengan
ungkapan: "Galilah kuburmu sendiri, sebelum kamu benar-benar mati."
Sindir spiritual yang mungkin terdengar agak nyeleneh bagi telinga kita, beliau ungkapkan setelah melakukan bagi diri beliau sendiri selama belasan bahkan puluhan tahun dengan amat tekun dan tekad yang membaja. Menggali dan menggali terus-menerus ke dalam batin beliau, telah melahirkan ungkapan sederhana.
Menyadari bahwasanya kita adalah makhluk yang cinta damai, adalah titik-tolak dimana kita mengawali penggalian itu. Untuk persiapannya, tergantung `bekal' yang telah kita punyai; jadi amat variatif antara orang yang satu dengan yang lainnya. Namun titik- tolaknya tetap sama, yakni Kesadaran Pribadi.
Denpasar, 7 Juni 2000.
____________________
Kesusahan (rasa susah), dan sebanganya, kita semua telah tahu, membuat dan memberikan beban kepada hidup kita, sehingga kita merasa berat, lelah, dan ingin terbebas darinya.
Kesenangan (rasa senang), kebehagiaan (rasa bahagia) dan sebangsanya, ternyata juga merupakan beban bagi hidup kita. Mengapa demikian? Karena dengan menikmati atau merasakan rasa bahagia itu – yang memang merupakan dambaan setiap orang -, kita ingin mempertahankan kebahagiaan kita itu. Usaha-usaha maupun upaya-upaya untuk mempertahankan tersebut sudah merupakan kerja berat – beban yang melelahkan! Belum lagi kalau kita gagal mempertahankannya, kebahagiaan tersebut berubah menjadi kekecewaan, kekesalan, kesusahan, yang kembali lagi itu jelas merupakan beban yang tak menyenangkan bagi hidup kita!
Betapa rentannya kebahagiaan semacam ini, betapa goyahnya dia, yang demikian mudah berubah, laksana bumerang beban!
Lalu baggaimana agar kita benar-benar bisa menikmati dan merasakan hidup yang damai, yang tanpa beban dan ancaman beban itu?
Caranya, kita harus bisa untuk :
- MENGERTI dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi itu.
- MENERIMA dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi itu.
- MELEPASKAN atau TIDAK TERIKAT, dengn apa yang terjadi itu.
Dengan begitu, kita akan benar-benar merasakan KEDAMAIAN, bukan lagi sekedar KEBAHAGIAAN semacam itu, kebahagiaan yang bersyarat atau berkondisi!
Pemulihan Batin Di PDKK Ratu Damai


Seorang pengurus PD kesal.Sudah beberapa kali ia mundar mandir dari rumah ke tempat ibadat. Banyak orang yang belum datang dan pesertanya sedikit.
Seorang pemain keyboard didera kecewa, karena hadiah dapat mobil hanya tipuan belaka.Tapi ia berusaha untuk suka cita, berdoa, dan bersyukur.
Hari ini Selasa 27/9, Bram Wongkar memberikan senjata pamungkas untuk mengobati luka-luka batin yang menyebabkan amarah, sedih, kesal, dan kecewa. Ia memberikan contoh ada dua orang bersahabat yang kelihatan akrab/lengket seperti perangko. Mereka mendadak berpisah dan ia menuduh temannya mulut ember dan mau rebut pacarnya. Bram menganjurkan untuk melupakan saja perkara itu.
"Enak saja loe," sergahnya. Seorang yang mengalami luka batin terjebak dalam rasa marah, bersalah dan sedih. Jiwanya terbeban karena sulit mengampuni. Berdoa Bapa Kami saja tidak nyaman. Ada hambatan psikologis.
Adaempat penyebabnya:
1.Saya tahu, dia tahu; 2.Saya tahu, dia tidak tahu. Contoh: Orang lain tidak tahu saya takut naik motor, karena trauma kecelakaan yang mengharuskannya masuk RS sampai 40 hari. 3. Saya tidak tahu, orang lain tahu. Contoh: Ada anak yang benci lihat wajah ibunya dan suka berbantah. Dalam konselling, ibunya menjelaskan bahwa sejak dalam kandungan, ibu ingin membuang (aborsi) anaknya. 4.Saya tidak tahu, orang lain tidak tahu. Contoh: seorang aktivis PD segan ke daerah karena takut naik pesawat.
Victor Frankle menekankan perlunya relasi dengan orang lain, menolak, proaktif dalam retret dan fase pembebasan.
Ajaran Yesus yang indah untuk saling mengampuni." Kalau kamu tidak mau mengampuni orang lan, Bapamu di sorga juga tidak mau mengampunimu." Robert de Grandis mengajar doa pelepasan/pengampunan: "Dalam Nama Yesus, saya mengampunimu (sebutkan nama). Bebaskan saya dari kebencian dan dendam." Hiruplah nafas Yesus yang memulihkan.Ganti dendam dengan buah Roh.
Umat diajak mempraktekkan hal ini dengan mengulang-ulang lagu "Mari masuk," dan "Mengampuni, mengampuni lebih sungguh karena Tuhan Yesus telah mengampuni lebih dulu."
(Tomas Samaria)
Islam Berarti Damai, tidak Ada Hubungannya dengan Teror
Reported by: Alex Hinckley
Peringatan peristiwa 11 September ke 10 sekarang hanya sekitar satu minggu lagi dan banyak organisasi mengadakan acara untuk mengingat nyawa-nyawa yang hilang dan mempromosikan perdamaian dan pemahaman. Satu kelompok lokal menghabiskan sabtu ini dengan mengadakan donor darah untuk menyelamatkan nyawa.
Komunitas Muslim mengambil waktu untuk menyebarkan perdamaian dan menghilangkan streotif yang salah tentang Islam. banyak umat Islam mengatakan kepada Berita 8 mereka secara pribadi disalahkan atas serangan teroris terburuk di Amerika Serikat. Untuk alasan inilah mereka membuat suatu misi untujk menyebarkan kebenaran.
Pada hari sabtu, Komunitas Muslim Ahmadiyah mengadakan sebuah acara donor darah. disana mereka memiliki kesempatan untuk menjelaskan arti Islam sebenarnya.
Mubarak Bashir mengatakan, stigma itu tidak benar, "kami hanya ingin orang tahu bahwa Islam secara harfiah berarti damai. Tidak ada hal seperti teroris Islam. jika seorang mengaku muslim tetapi mereka melakukan aksi teror, mereka adalah Islam secara nama tapi tidak dalam perbuatan."
Untuk mengkonter stereotif itu dan mengingat kehidupan yang melayang, Komunitas Muslim Rochester mengadakan donor darah. Bashir menjelaskan, "Cara terbaik adalah mengumpulkan 10.000 kantong darah dan akhirnaya menyelamatkan nyawa sebanyak 30.000?
Puluhan pendonor memberikan darah dan selebihnya mereka bisa mempelajari lebih banyak tentang Islam dan tata cara hidup Muslim.
robert Oliver, baru saja masuk Komunitas Islam beberapa bulan lalu. dia membuat misinya untuk menyebarkan kebenaran. oliver mengatkan, "sungguh disayangkan, saya pikir peristiwa 11 septermber telah menciptakan citra negatif Islam. dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk menaruh citra positif dari pada hal-hal untuk perubahan.
Pusat bekarja sepanjang tahun mengadakan edukasi bagi orang-orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya Islam. Ahmad menambahkan: "Kami mencoba untuk membawa gambar yang indah dari Islam. Islam berarti damai. dan tidak ada hubungannya dengan teror.
Oleh: Andre Wongso
Senin, 24-Januari-2011
Seringnya terjadi kerusuhan, kekisruhan, ketidakpastian, ketidakadilan, bencana alam, barangkali menjadi indikasi kedamaian suatu negara sedang terganggu. Dan kebetulan indikasi itu yang belakangan sering terjadi di negara kita. Belum tentu kita setuju kalau ada orang yang menyebutkan negara kita termasuk ke dalam negara yang kurang damai meskipun lembaga pemeringkat menempatkan Indonesia di posisi ke-67 dalam hal tingkat kedamaian dari 149 negara yang disurvei.
Lembaga itu adalah Institute for Economic and Peace. Mereka mengelompokkan negara-negara berdasarkan sejumlah indikator. Beberapa indikatornya antara lain peperangan yang terjadi di negara itu baik antarkomponen masyarakatnya atau berperang dengan negara lain, ketidakstabilan politik, potensi serangan teroris, jumlah pembunuhan, tingkat kriminal, jumlah orang yang dipenjara, dan sebagainya. Meski rinci menyimpulkan suatu negara sebagai negara damai, kurang damai, atau tidak damai dalam ranking Global Peace Index (GPI), hal ini masih bisa diperdebatkan. Toh, tiap orang punya cara sendiri menempatkan dirinya merasa damai dalam suatu lingkungan yang tidak menentu sekalipun.
Coba kita lihat peringkat GPI 2010. Urutan pertama hingga lima diduduki oleh Selandia Baru, Islandia, Jepang, Austria, dan Norwegia. Di antara negara-negara Asean, negara "paling damai" adalah Malaysia (urutan ke-22) dan Singapura (urutan ke-30). Setelah membaca itu, sepertinya kita akan segera berdebat.
Teman-teman yang Berbahagia,
Tadi pagi pada talkshow di Radio Sonora, saya membahas topik mengenai kedamaian ini di mana saya membawakan cerita ilustrasi yang menarik (judul: Kedamaian Hati). Seorang raja mengadakan lomba melukis untuk melihat bagaimana rakyatnya menggambarkan kedamaian melalui lukisannya. Sang raja memilih karya yang melukiskan langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai yang telah mereda. Namun di sana ada seekor burung yang merasa tak terganggu dan tetap mengerami telur-telurnya, untuk menetaskan kehidupan baru. Ia pun mengemukakan alasannya kenapa memilih lukisan itu sebagai pemenang.
Menurut sang raja, kedamaian bukan berarti kita harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan, atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai. Kedamaian hati adalah kemampuan menjaga keseimbangan dan kebijaksanaan di segala situasi dan tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Dan itu tergambar dari sikap si burung.
Karena itu, mampu tetap merasa damai di tengah "kekacauan" atau situasi yang riuh rendah menuntut kedewasaan diri kita saat menjalaninya. Memang tak mudah dan perlu latihan berkali-kali agar hati kita bisa menemukan kedamaian dalam situasi seperti itu.
Mari, kita jaga hati dan pikiran sendiri agar selalu tenang dan damai sehingga kebahagiaan akan menjadi milik kita selamanya.
Salam sukses luar biasa!
Lembaga itu adalah Institute for Economic and Peace. Mereka mengelompokkan negara-negara berdasarkan sejumlah indikator. Beberapa indikatornya antara lain peperangan yang terjadi di negara itu baik antarkomponen masyarakatnya atau berperang dengan negara lain, ketidakstabilan politik, potensi serangan teroris, jumlah pembunuhan, tingkat kriminal, jumlah orang yang dipenjara, dan sebagainya. Meski rinci menyimpulkan suatu negara sebagai negara damai, kurang damai, atau tidak damai dalam ranking Global Peace Index (GPI), hal ini masih bisa diperdebatkan. Toh, tiap orang punya cara sendiri menempatkan dirinya merasa damai dalam suatu lingkungan yang tidak menentu sekalipun.
Coba kita lihat peringkat GPI 2010. Urutan pertama hingga lima diduduki oleh Selandia Baru, Islandia, Jepang, Austria, dan Norwegia. Di antara negara-negara Asean, negara "paling damai" adalah Malaysia (urutan ke-22) dan Singapura (urutan ke-30). Setelah membaca itu, sepertinya kita akan segera berdebat.
Teman-teman yang Berbahagia,
Tadi pagi pada talkshow di Radio Sonora, saya membahas topik mengenai kedamaian ini di mana saya membawakan cerita ilustrasi yang menarik (judul: Kedamaian Hati). Seorang raja mengadakan lomba melukis untuk melihat bagaimana rakyatnya menggambarkan kedamaian melalui lukisannya. Sang raja memilih karya yang melukiskan langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai yang telah mereda. Namun di sana ada seekor burung yang merasa tak terganggu dan tetap mengerami telur-telurnya, untuk menetaskan kehidupan baru. Ia pun mengemukakan alasannya kenapa memilih lukisan itu sebagai pemenang.
Menurut sang raja, kedamaian bukan berarti kita harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan, atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai. Kedamaian hati adalah kemampuan menjaga keseimbangan dan kebijaksanaan di segala situasi dan tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Dan itu tergambar dari sikap si burung.
Karena itu, mampu tetap merasa damai di tengah "kekacauan" atau situasi yang riuh rendah menuntut kedewasaan diri kita saat menjalaninya. Memang tak mudah dan perlu latihan berkali-kali agar hati kita bisa menemukan kedamaian dalam situasi seperti itu.
Mari, kita jaga hati dan pikiran sendiri agar selalu tenang dan damai sehingga kebahagiaan akan menjadi milik kita selamanya.
Salam sukses luar biasa!
7:57 PM
admin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar