Selasa, 11 Oktober 2011

Jangan Mudah Terprovokasi


BANGSA ini rasanya sudah bukan lagi bangsa yang cinta damai. Buktinya, setiap timbul suatu masalah yang menyangkut kemasyarakatan, kesukuan, ras, keagamaan, kebangsaan atau yang bersifat nasional, ujung-ujungnya kekerasan. Payah!

Fenomena amuk massa berlangsung di mana-mana. Tidak jarang mengatasnamakan demokrasi (kebebasan), menggiring masyarakat pada tindakan anarki.

Kondisi kehidupan bangsa Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda ke arah perbaikan, tapi justru sebaliknya. Sepertinya, kekerasan dijadikan kebiasaan yang hakiki oleh bangsa kita bahkan mungkin ke depannya akan menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan keadaan seperti ini mustahil tercapainya negara yang adil dan makmur.

Kita memang harus secepatnya mencari akar permasalahan dan kemudian membenahinya. Idealnya kita bisa menghilangkan sumber utama kekerasan. Namun, itu terlalu lama dan tidak efektif, kita bisa saja memulainya dari diri kita sendiri untuk mengikrarkan stop kekerasan pada lingkungan yang pertama kali kita kenal yaitu keluarga.

Ajarkan bahwa kalau sampai bangsa ini terkotak-kotak, kebinasaan dan kehancuran akan terjadi. Pada dasarnya memang, kekerasan dan keberingasan salah bentuk luapan perasaan kecewa, dan sifatnya spontan. Tapi kalau rasa kecewa itu diluapkan dengan tindakan agresif, siapa yang rugi.

Kita semua perlu belajar memanejemen konflik dengan tidak terjebak dalam pemikiran yang salah dan gampang terprovokasi.

BANGSA ini rasanya sudah bukan lagi bangsa yang cinta damai. Buktinya, setiap timbul suatu masalah yang menyangkut kemasyarakatan, kesukuan, ras, keagamaan, kebangsaan atau yang bersifat nasional, ujung-ujungnya kekerasan. Payah!Fenomena amuk massa berlangsung di mana-mana. Tidak jarang mengatasnamakan demokrasi (kebebasan), menggiring masyarakat pada tindakan anarki.Kondisi kehidupan bangsa Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda ke arah perbaikan, tapi justru sebaliknya. Sepertinya, kekerasan dijadikan kebiasaan yang hakiki oleh bangsa kita bahkan mungkin ke depannya akan menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan keadaan seperti ini mustahil tercapainya negara yang adil dan makmur. Kita memang harus secepatnya mencari akar permasalahan dan kemudian membenahinya. Idealnya kita bisa menghilangkan sumber utama kekerasan. Namun, itu terlalu lama dan tidak efektif, kita bisa saja memulainya dari diri kita sendiri untuk mengikrarkan stop kekerasan pada lingkungan yang pertama kali kita kenal yaitu keluarga. Ajarkan bahwa kalau sampai bangsa ini terkotak-kotak, kebinasaan dan kehancuran akan terjadi. Pada dasarnya memang, kekerasan dan keberingasan salah bentuk luapan perasaan kecewa, dan sifatnya spontan. Tapi kalau rasa kecewa itu diluapkan dengan tindakan agresif, siapa yang rugi.Kita semua perlu belajar memanejemen konflik dengan tidak terjebak dalam pemikiran yang salah dan gampang terprovokasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar