Selasa, 11 Oktober 2011

DEMOKRASI ALA AMERIKA SERIKAT SEBAGAI AGAMA BARU?

Saat ini banyak orang yg telah diuntungkan dan keranjingan dg apa yg namanya Demokrasi ala Amerika dan Eropa. Sampai2 sebagian masyarakat yg telah “Jaya” dg kendaraan Demokrasi menganggap bahwa  “Agama” yg paling benar adalah demokrasi. Kiblat serta tanah sucinya adalah di Amerika Serikat. Sehingga apabila seseorang yg anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yg pro dan kontra demokrasi ditentukan pasti bukan oleh orang awam dan masyarakat biasa. Golongan awam dan masyarakat biasa mendapat jatah menjadi pihak yg diplonco dan dites terus-menerus oleh subyektivisme kaum Oportunis sekuler…

Orang-orang oportunis sekuler, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari kebebasan HAM tidak dengan membaca Sejarah dan Akar budaya bangsa ., melainkan dengan menilai dari sudut pandang kepententingan dan keuntungan golongan mereka.

Dalam tataran praktiknya, demokrasi juga menghasilkan sejumlah kerumitan. Sejak berdirinya pada tahun 1776, AS sebagai kampium demokrasi dunia, memerlukan waktu 11 tahun untuk menyusun konstitusi, 89 th untuk menghapus perbudakan, 144 th untuk memberikan hak pilih kepada kaum wanita, dan 188 th untuk menyusun draft konstitusi yg “melindungi” seluruh warga Negara (Strobe Talbott, 1997). Bahkan setelah ratusan tahun hingga hari ini, demokrasi Amerika belum juga “rela” memberikan kursi kepresidenan kpd seorang wanita. Padahal demokrasi katanya menjungjung tinggi kesetaraan dan memberikan hak politik yg sama kepada laki-laki maupun perempuan.

Anehnya, dg perjalanan masa lalu yg demikian kelabu dan bahkan kelam serta masa kini yg penuh ironi dan kontradiksi, amerika dg pongahnya memberikan kuliah tentang “demokrasi juga HAM” kepada Negara-negara berkembang yg mayoritasnya adalah negeri-negeri Islam. Yg Lebih aneh lagi adalah para pemuja Demokrasi dan HAM dari kalangan Muslim, yg tetap buta terhadap kebobrokan demokrasi serta menutup mata terhadap kebejatan Negara adikuasa AS sebagai pengusung utamanya.

Benarlah Sir Winston Churchill (PM Inggris pada masa PD-II) yg pernah mengatakan “demokrasi bukanlah sistem yg baik; dia menyimpan kesalahan dalam dirinya (built-in-error).”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar