Beberapa Aspek yang Mampu Membangkitkan Kekerasan dan Keberingasan Massa
Jika kita amati kondisi setelah masa reformasi sudah berjalan lebih sepuluh tahun, berbagai dimensi kehidupan masyarakat Indonesia semakin mengalami goncangan – kalau tidak boleh dikatakan ambruk. Mulai dari dimensi politik – walaupun oleh negara-negara “mbahnya demokrasi” dikatakan bahwa kehidupan demokrasi Indonesia saat ini sudah lebih menggembirakan. Akan tetapi jika dilihat dari sudutperilaku sosial, sebenarnya sangat menyedihkan, karena saat ini lebih mengedepankan konsepDemokrasi Liberal yang diadopsi dari negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat. Sedangkan kesiapan mental dan pola berpikir masyarakat Indonesia masih mengalami kesulitan dalam menyikapi liberalisasi disegala dimensi kehidupan. Sehingga menimbulkan kekacauan struktural yang semakin lama semakin kronis. Sebagai contoh kecil sering kita lihat, walau secara Hukum maupun aturan telah ditetapkan – bahkan kadangkala telah diputuskan oleh palu pengadilan – hak kepemilikan suatu lahan yang ditempati secara liar oleh masyarakat tertentu saat dieksekusi oleh aparat menimbulkan perlawanan yang bersifat anarkhis.
Belum lagi kebebasan pers yang mengatas namakan demokrasi, menjadi sangat over acting, sehingga justru menimbulkan gangguan dan merugikan hak-hak pihak lain. Media elektronik semakin bermunculan dalam rangka berebut kue pemirsa dan iklan. Mereka berusaha menyajikan tayangan-tayangan secara live (siaran langsung) pada pemirsa sebagai obyek manipulasi. Secara kultural mengarah pada manipulasi persepsi, pemikiran dan imajinasi khalayak secara membabi buta dalam bentuk iklan, berita kekerasan dan hiburan-hiburan negatif yang kontra produktip. Semua akan bermuara pada pembentukan opini yang bersifat subyektip secara terus menerus. Yang dikhawatirkan akan semakin memunculkan aneka sub-kultur baru.
Kini semakin kita rasakan adanya beraneka macam pola pikir dan sikap mental di dalam masyarakat Indonesia. Sehingga semakin sulit melakukan proses pelembagaan etos dan pandangan hidup baku secara nasional. Harapan memiliki etos dan pandangan hidup yang mampu dijadikan landasan strategi berpikir masyarakat, untuk segera keluar dari krisis multi dimensional malah semakin kandas. Sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah menyusun kembali Karakter Bangsa, dan memperkokoh dimensi ekonomi menuju negara industri. Selanjutnya memantapkan hasil pembaharuan dimensi politik, yang berkaitan dengan penemuan bentuk konsep demokrasi asli agar sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia kini dan yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar