Selasa, 11 Oktober 2011


YANG TIDAK BIASA


Setiap perjumpaan memiliki makna tertentu. Ada yang tetap diingat dan ada pula yang dibiarkan berlalu begitu saja. Layaknya memori yang cenderung menyimpan kenangan berdasarkan aroma dan irama, saya pun demikian.

Oleh berbagai sebab, salah satunya karena pekerjaan yang digeluti, saya telah berjumpa dengan banyak orang, banyak nama dan dari banyak tempat.

Perjumpaan-perjumpaan yang tidak disengaja ini telah memperkenalkan saya dengan kelompok-kelompok dan orang-orang yang tidak biasa.

Entah bagaimana asal mulanya, saya akhirnya bergabung dengan sekelompok orang tidak biasa, menjalin benang merah ritme persaudaraan yang tumbuh dengan sendirinya.

Sekelompok orang yang tidak biasa, lintas agama, suku dan kawasan di Maluku menamakan dirinya Coffee Badati. Mereka “dibentuk” dengan sendirinya oleh bentrok antar warga di Ambon pada 11 September 2011.

Kelompok yang tidak biasa ini ada karena keterpanggilan jiwanya untuk menyebarkan perdamaian dengan cara sederhana namun tidak biasa. Mereka membagikan kopi dan roti kepada masyarakat yang telah berpartisipasi menjaga keamanan di lingkungan masing-masing.

Kami memulainya pada 9 Oktober 2011, sekitar pukul 21.00 WIT, diawali dengan mendatangi tiga pos jaga warga Muslim dan Kristen di kawasan Ahuru, dan Air Besar, kelurahan Amantelu.

Kunjungan dan perkenalan singkat di tiap pos pos jaga telah menyimpan kisah-kisah tidak biasa di dalam kepala saya, bagaimana kondisi dan pola kehidupan komunitas akar bawah sesungguhnya. Semangat dan ikatan persaudaraannya tak pernah padam.

Saya menemukan nilai-nilai dan etos kehidupan yang rukun dan kesadaran untuk saling menjaga, menyayangi, mengasihi, menghargai satu dengan lainnya pada mereka. Kendati konflik telah meremukan psikis mereka, tapi konsistensi terhadap damai masih tetap ada. Ini sungguh tidak biasa.

Setelah dari Ahuru dan Arbes, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Mangga Dua. Kami akan mengunjugi pos jaga di tempat yang berhubungan langsung dengan kejadian 11 September itu. Saya lalu menghubungi nomor kontak yang diberikan seorang teman di Mangga Dua.

Orang yang akan saya hubungi ini merupakan kepala pemuda dan akses bagi Coffee Badati untuk bisa bersua dengan masyarakat di sana. Berkali-kali saya menghubungi nomor ponselnya tapi tidak tersambungkan, saya pun mengirimkan pesan singkat padanya.

Saya belum tahu seperti apa sosok yang sedang saya hubungi. Tapi menurut teman saya, orang ini sangat antusias untuk menyambut kedatangan Coffee Badati. Kendati belum juga berhasil menghubungi kepala pemuda itu, kami tetap datang ke Mangga Dua.

Sesampainya di sana, saya menanyakan perihal keberadaan kepala pemuda itu pada seorang warga yang kebetulan sedang melintas di depan mobil pick up yangg kami tumpangi. Warga tersebut bersedia mengantar kami ke rumah kepala pemuda.

Belum setengah perjalanan, saya akhirnya bertemu dengan bung Ridho Pattiasina, kepala pemuda yang sedang saya cari-cari. Ternyata kami pernah bertemu sebelumnya dalam kegiatan futsal pada 2009.

Perjumpaan yang tidak disangka-sangka memang. Saya lupa dengan sua beberapa tahun lalu, tapi bung Ridho masih mengingatnya.

Saya bersama teman-teman ngobrol dengan bung Ridho dan beberapa warga yang ada saat itu. Kami berbagi cerita tentang perdamaian dan usaha-usaha yang dilakukan oleh masing-masing pihak untuk tetap menjaganya.

Sama seperti tiga pos yang kami kunjungi sebelumnya, bung Ridho dan saudara-saudara di Mangga Dua pun melakukan hal yang sama karena keinginan untuk adanya damai selamanya di Ambon, Maluku.

Secara psikologis, pos yang satu ini memang tidak biasa, daerahnya merupakan wilayah awal terjadinya konflik yang menyebabkan seorang anak kecil terluka.

Saya sendiri pun tidak pernah menyangka kalau gadis berusia tujuh tahun itu, Renza Gabriel yang tangannya cedera saat tragedi 11 September terjadi dan semakin memperpanas suasana adalah puteri bung Ridho sendiri.

“Usi, anak kecil yang tangannya dipotong waktu itu adalah puteri saya. Tapi saya tidak ingin ada kelompok lain yang disalahkan karena ini, biarlah polisi yang menyelesaikannya secara hukum,” ujarnya.

Menurut dia, saat melarikan puterinya ke rumah sakit, banyak warga Kristen yang kalap dan berteriak-teriak bahwa sudah ada di antara mereka yang dipotong.

“Saat itu suasana memang memanas, tapi saya berusaha menenangkan mereka dan bilang kalau ini cuma kecelakaan. Sejak saat itu saya juga melarang siapa pun bertanya pada Renza bagaimana situasi ketika dia terluka. Biarlah tangan anak saya menjadi lambang untuk perdamaian selamanya.”

Saya takjub. Saya tidak mudah berurai air mata, meskipun berada dalam situasi yang sangat sensitif, tapi entah mengapa saya tidak kuasa menahan keluarnya air itu dari pelupuk. Saya menangis malam itu. Saya tidak peduli dengan banyaknya pasang mata yang memandang peristiwa yang tidak biasa terjadi pada saya.

Saya menangis bukan karena anak kecil yang terluka dalam peristiwa tersebut, atau karena yang dipotong adalah anak dari orang yang telah saya kenal sebelumnya, tapi saya menangis karena berjumpa dengan sosok yang sangat tidak biasa malam itu, Ridho Pattiasina. Hatinya benar-benar seluas samudera.

Dalam beberapa menit saya tidak sangup berkata apa pun. Ini terlalu luar biasa, lebih dari sekedar ucapan terima kasih yang dalam karena tetap bijak dalam menyikapi semua ini.
Bagaikan film tanpa musik, kebesaran jiwa dan ketulusannya telah membuat kenangan yang dalam dan akan terus berputar dalam memori otak saya.

Saya sendiri tidak sanggup membayangkan bilamana saya berada di posisinya, dapatkah saya menerima semua itu dengan lapang dada, senantiasa konsisten menjaga perdamaian, tetap tulus menjalin hubungan dengan saudara-saudaranya yang berbeda agama? Mungkin saja tidak.

Terima kasih banyak, bung Ridho Pattiasina, Renza Gabriel dan yang lainnya, yang masih tetap tulus menjaga tali persaudaraan. Meskipun saya Muslim dan kalian Kristen, saya tetap akan selalu mendoakanmu dan keluarga, wahai pemilik hati seluas samudera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar