LAGI-LAGI PAMER KEKERASAN
SEPANJANG pekan lalu publik di Tanah Air disuguhi peristiwa yang --seharusnya-- membuat rasa kemanusiaan dan keyakinan keberagamaan bangsa ini terusik.
Tiga peristiwa bentrokan antarmassa dan sebuah perburuan atas orang-orang yang diduga sebagai teroris --yang mirip adegan perburuan hewan di tengah rimba-- menghiasi tayangan berita televisi, juga media cetak.
Pekan kemarin juga ditutup oleh drama berdarah tabrakan kereta api di dua tempat terpisah dalam tempo yang nyaris bersamaan. Semua peristiwa itu berujung pada jatuhnya korban manusia. Menyisakan luka hati dan mungkin juga dendam yang belum tentu bisa pudar oleh formalitas kesepakatan damai.
Ya, sepanjang pekan lalu publik menerima kabar dan menyaksikannya melalui layar televisi, bagaimana sekelompok orang sipil dengan bebas menggelar senjata tajam dan senjata api di tengah keramaian Kota Jakarta, memburu dan --kalau perlu-- membunuh kelompok lain yang dianggap lawan.
Bahkan seorang sopir bus yang tak ada sangkut-paut dengan urusan mereka, dibetot dari kursinya lalu dibantai yang disaksikan ratusan pengguna jalan, juga satu dua aparat keamanan, yang entah kenapa tak mampu berkutik.
Publik juga menyaksikan, bagaimana Tarakan, kota kecil dan sepi di Kalimantan Timur tiba-tiba jadi arena keberingasan antarsuku. Orang-orang seakan mendadak haus darah. Masing-masing kelompok dengan bebas melenggang sambil menenteng parang, mandau, badik, kelewang, panah, tombak, dan lembing.
Begitu pula di Ciampea Udik, sebuah desa di kawasan sejuk di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Malam yang dingin dikoyak kobaran api dan jerit ketakutan, ketika sekelompok orang menyerang dan membakar permukiman dan mesjid warga Ahmadiyah.
Rangkaian peristiwa itu dengan jelas menggambarkan kepada publik, bahwa kekerasan dan kebiadaban masih saja terjadi di negara yang memiliki prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab ini. Bahwa pemaksaan kebenaran keyakinan keberagamaan satu kelompok terhadap kelompok lain, masih dilakukan oleh segelintir orang yang mengaku bertuhan.
Kerusuhan Jakarta, Tarakan, dan Bogor, mungkin ‘kecil’ dibanding tragedi-tragedi sebelumnya yang sudah menguburkan ribuan orang. Mungkin juga kalah mengerikan dibanding kepala- kepala yang bergelindingan dalam kerusuhan Sambas dan Sampit, atau tumpukan mayat yang dikubur di Poso, Aceh dan entah mana lagi.
Persoalannya tentu saja bukan pada jumlah korban tewas, melainkan tragedi yang semestinya tak perlu terjadi. Begitu biadabkah bangsa kita masa kini sehingga segala persoalan baru selesai kalau sudah ditukar nyawa?
Selembar nyawa manusia terlalu mahal dan terlalu berharga jika harus dijadikan alat tukar kedamaian, ketenteraman, dan kerukunan. Begitu ada seutas nyawa diputus manusia lain tanpa sebab yang diterima akal, saat itulah rasa aman, damai, rukun, dan tenteram kita sudah tak ada lagi.
Itulah yang selalu terjadi dan terjadi lagi. Kita kadang tak habis mengerti, mengapa ada saja orang atau kelompok yang tetap memaksakan kehendaknya atas orang atau kelompok lain, sehingga tak segan mereka mempraktikkan kekerasan untuk menunjukkan kesungguhannya dalam ritus pemaksaan itu.
Kekerasan demi kekerasan terjadi dan seakan tak terkendali karena negara belum mampu menegakkan tatanan baru yang menjamin kepastian dalam kehidupan sosial. Persoalan yang berhubungan dengan hukum, ekonomi, perpajakan, dan perbankan, bahkan ketatanegaraan, sampai kini belum juga terselesaikan dengan baik dan bisa diterima semua pihak.
Pada kondisi seperti itu, masyarakat mudah melakukan kekerasan, karena mereka kehilangan tatanan yang harus diikuti. Ketika tatanan tidak hadir dalam kehidupan mereka, mereka menegakkan tatanan sendiri sesuai kepentingannya tanpa mempedulikan kepentingan yang lain. Akibatnya, hidup kini tak lagi tenang, tenteram, rukun dan damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar