Kamis, 13 Oktober 2011


MASIH ADA MEREKA!

Masih ada mereka..
Yang tak bisa berdiam diri,
melihat kobaran api terus berlari.

Masih ada mereka....
Yang menghembuskan harapan damai,
saat napas tersendat, kesesakan dan putus asa makin ramai.

Masih ada mereka....
Yang menawarkan secangkir kopi hangat,
di tengah-tengah krisis kepercayaan tak kenal penat.

Masih ada mereka....
Yang meneteskan air mata,
melihat sesama (walau berbeda) yang terluka.

Masih ada mereka....
Yang tersenyum tulus untuk damai,
walau sedetik lalu dibakar habis tak berdawai.

Masih ada mereka....
Yang mengubah cerita duka karena rusuh,
menjadi syair damai sarat makna yang menusuk.

Masih ada mereka....
Yang demi sehelai selimut kepada pengungsi,
menjajal suara di jalanan, karena yang harus tak berfungsi.

Masih ada mereka....
Yang tak bisa tidur nyenyak,
saat penjahat kemanusiaan masih bergerak.

Masih ada mereka....
Yang terus bergerak gesit,
walau di tengah semak berduri tetap terbesit.

Masih ada mereka....
Yang mampu melihat terang hari esok,
di tengah kegelapan dan kegalauan hari ini.

Ya, MASIH ADA MEREKA!
Terang damai takkan pernah redup,
Karena jantung mereka terus berdegup.

Selasa, 11 Oktober 2011


DAMAI

Langit tetap biru
Pepohonan tetap hijau
Bangunan tetap berdiri tegak
Manusia tak seperti dulu lagi
Kini tidak ada kerja sama
Selalu mementingkan diri sendiri
Saling berkelahi
Semua saling benci
Oh, miskinkah hati ini
Apakah tidak ada lagi kata damai ?
Apakah yang ada hanya benci ?
Hanya berkorupsi.
Aku hanya bisa berdoa pada TUHANku...

"Damai Dalam Selimut Ramai"

Bisumu memenjara
Terpasung dalam deru
Jalanmu kau pilih sendiri
damaiku dalam selimut ramai

Dan kau bertanya kenapa
Kujawab biar saja
Perlu kutemani?
Jangan kau ke sini
damaiku dalam selimut ramai

Biar hingar bingar
Temaniku 
Sampaiku
Rasaku
Bosanku
Damaiku dalam selimut ramai


I

Beberapa Aspek yang Turut Berperan dalam Menyulut Kekerasan dan Keberingasan Massa

Jika kita amati kondisi setelah masa reformasi sudah berjalan lebih sepuluh tahun, berbagai dimensi kehidupan masyarakat Indonesia semakin mengalami goncangan – kalau tidak boleh dikatakan ambruk. Mulai dari dimensi politik – walaupun oleh negara-negara “mbahnya demokrasi” dikatakan bahwa kehidupan demokrasi Indonesia saat ini sudah lebih menggembirakan. Akan tetapi jika dilihat dari sudutperilaku sosial, sebenarnya sangat menyedihkan, karena saat ini lebih mengedepankan konsepDemokrasi Liberal yang diadopsi dari negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat. Sedangkan kesiapan mental dan pola berpikir masyarakat Indonesia masih mengalami kesulitan dalam menyikapi liberalisasi disegala dimensi kehidupan. Sehingga menimbulkan kekacauan struktural yang semakin lama semakin kronis. Sebagai contoh kecil sering kita lihat, walau secara Hukum maupun aturan telah ditetapkan – bahkan kadangkala telah diputuskan oleh palu pengadilan – hak kepemilikan suatu lahan yang ditempati secara liar oleh masyarakat tertentu saat dieksekusi oleh aparat menimbulkan perlawanan yang bersifat anarkhis.

Belum lagi kebebasan pers yang mengatas namakan demokrasi, menjadi sangat over acting, sehingga justru menimbulkan gangguan dan merugikan hak-hak pihak lain. Media elektronik semakin bermunculan dalam rangka berebut kue pemirsa dan iklan. Mereka berusaha menyajikan tayangan-tayangan secara live (siaran langsung) pada pemirsa sebagai obyek manipulasi. Secara kultural mengarah pada manipulasi persepsi, pemikiran dan imajinasi khalayak secara membabi buta dalam bentuk iklan, berita kekerasan dan hiburan-hiburan negatif yang kontra produktip. Semua akan bermuara pada pembentukan opini yang bersifat subyektip secara terus menerus. Yang dikhawatirkan akan semakin memunculkan aneka sub-kultur baru.

Kini semakin kita rasakan adanya beraneka macam pola pikir dan sikap mental di dalam masyarakat Indonesia. Sehingga semakin sulit melakukan proses pelembagaan etos dan pandangan hidup baku secara nasional. Harapan memiliki etos dan pandangan hidup yang mampu dijadikan landasan strategi berpikir masyarakat, untuk segera keluar dari krisis multi dimensional malah semakin kandas. Sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah menyusun kembali Karakter Bangsa, dan memperkokoh dimensi ekonomi menuju negara industri. Selanjutnya memantapkan hasil pembaharuan dimensi politik, yang berkaitan dengan penemuan bentuk konsep demokrasi asli agar sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia kini dan yang akan datang.

KOMUNITAS TANPA KEKERASAN

Kearifan lokal yang dimiliki dan menjadi keunggulan bangsa Indonesia agaknya terus mendapat ujian. Kearifan lokal yang tercermin dalam beragam wujud seperti kekayaan budaya, adat, etika, sikap santun dan ramah kepada sesama dan orang lain cenderung tergerus. Sejumlah peristiwa di dalam negeri menjadi fakta tentang kearifan lokal yang dibanggakan itu mulai rapuh. Emosional orang gampang terusik karena hal-hal sepele dan berujung kepada aksi anarkis yang menelan korban harta dan nyawa. Kearifan lokal yang dibalut oleh pemahaman agama dan keyakinan cenderung lemah. Saat emosi menggelegak, orang tidak segan menembak, merampok dan menganiaya orang lain.

Kekerasan dan tindak anarkis seperti berjalan spontan dan menjadi pelengkap dari setiap aksi. Ironisnya, setiap aksi berpeluang diikuti oleh banyak kalangan dan segala usia. Lihat, pada sejumlah aksi tawuran antar warga, pelajar, demo mahasiswa, pertikaian antar kelompok pemuda dan organisasi hingga aksi teror yang merusak infrastruktur dalam bentuk fasilitas sosial dan fasilitas umum. Reaksi emosional orang semakin mudah disulut, marak dan kemudian mengabaikan rasional. Sejumlah isu yang ditiupkan oleh entah siapa, cepat diserap tanpa memikirkan akurasi kebenarannya.

Dalam bentuk lain, praktik ketidakadilan dari sejumlah kalangan yang memiliki kekuasaan, uang dan popularitas, semakin banyak terjadi. Sebaliknya sejumlah orang menjadi tidak berdaya, teraniaya dan tidak memiliki akses kepada kekuasaan, uang dan popularitas akan semakin terpuruk. Dalam keadaan itulah intuisi individu tidak bekerja. Keinginan komunitas yang lemah membela diri dari ketidakadilan, semakin kuat.
Sementara komunitas yang memiliki kekuatan dari berbagai sisi, justru tidak menunjukkan rasa belas kasihan. Maka saat itulah citra kearifan lokal yang menjadi keunggulan bangsa Indonesia dipertanyakan orang. Mengapa sejumlah warga negara Indonesia melakukan tindakan tidak produktif? Padahal tindakan produktiflah yang sepatutnya ditunjukkan oleh bangsa Indonesia agar mampu bersaing menjadi negara maju. Akumulasi tindakan produktif dari bangsa Indonesia menjadi kekuatan berharga untuk bangkit dari banyak hal ; kemiskinan, pengangguran dan hutang dari negara lain.

Dilematik
Tindakan tidak produktif menjadi dilematik sebab kepedulian untuk menjadi bangsa yang kuat justru tergerus dengan beragam perbuatan tidak etis seperti korupsi merajalela, penggunaan kewenangan untuk memperkaya diri dan praktik ketidakadilan. Dalam situasi lain, perhatian orang terhadap karakter bangsa cenderung berkurang. Lingkungan keluarga, sekolah dan kampus dinilai banyak orang sebagai wadah efektif untuk pendidikan karakter. Hasil dari proses pendidikan itu akan menghasilkan moral individu yang berguna sebagai benteng terhadap perbuatan tidak baik. Namun, berbagai praktik yang cenderung menyimpang dari etika dan regulasi berlaku, semakin marak terjadi di masyarakat. Akibatnya, penyimpangan etika dan regulasi berlaku dianggap sebagai hal ”biasa, lumrah dan manusiawi”.

Sebagai bangsa yang memiliki kearifan lokal, terbentuknya komunitas kekerasan yang mudah tersulut oleh perbuatan ketidakadilan, isu tidak akurat dan hal-hal sepele lainnya, tentu saja membuat kita prihatin. Pasalnya, kekerasan yang terjadi di masyarakat memberi efek buruk seperti trauma ketakutan dan rasa tidak aman. Dalam skala besar, efek seperti itu akan mempengaruhi citra bangsa Indonesia di mata dunia, mengganggu aktivitas masyarakat untuk bekerja dan berbisnis. Di lain pihak, praktik ketidakadilan, berpihak (personal), dan informasi tersumbat dari para elit politik, pemerintah dan aparatnya, semakin membuat suasana menjadi keruh. Jika situasi ini bertemu, peluang ketidak-puasan dan kekecewaan akan terbentuk secara cepat.

Wujudnya dapat dilihat dalam reaksi spontan yang akhirnya berujung pada tindakan anarkis. Jika mau dihitung, pemerintah dan masyarakat akan mengalami kerugian besar dari kerusakan infrastruktur akibat perbuatan ”mubazir, kontra produktif” dari segelintir orang. Kerugian itu belum termasuk kerugian trauma psikis yang cenderung membuat lemahnya rasa percaya diri. Padahal rasa percaya diri menjadi penting bagi satu bangsa untuk melakukan berbagai inovasi.

Tanggungjawab bersama
Deteksi dini terhadap tindakan kekerasan dalam berbagai bentuk aksi, dimulai dari komunitas kecil yakni keluarga inti (orangtua dan anak). Harmonisasi keluarga berpeluang terwujudnya komunikasi keluarga yang kuat. Sebaliknya, jika harmonisasi dalam keluarga tidak terwujud, maka anggota keluarga akan mencarinya dari komunitas di luar rumah.

Dalam skala lebih luas, keluarga inti berkembang dengan tambahan anggota keluarga seperti kakek, nenek dan saudara orangtua dan kerabat lain. Komunitas ini kemudian menjadi lebih besar dalam bentuk rukun tetangga dan rukun warga. Peran setiap anggota komunitas menjadi penting agar rencana aksi kekerasan dan kerugian harta benda serta nyawa dapat diminimalisasi. Semua peran ini sangat membantu tugas dari aparat keamanan seperti bintara pembina desa (babinsa) dan polisi kelurahan. Sinerji antara babinsa, polisi kelurahan dan masyarakat menjadi semakin kuat dan mampu mencegah aksi kekerasan spontan atau terencana. Upaya pencegahan tindak kekerasan yang cenderung marak di masyarakat sepatutnya harus dilakukan secara sistematik, berkesinambungan dan melibatkan semua unsur masyarakat. Sasarannya antara alain dari terwujudnya rasa aman di dalam komunitas kecil dan akhirnya di dalam masyarakat Indonesia.

Rasa aman selanjutnya akan membentuk rasa percaya diri warga. Banyak contoh yang dapat dipelajari dari pentingnya membentuk rasa percaya diri dan rasa aman. Di kawasan Asia Timur, bangsa Jepang, Korea dan kini China memulai keberhasilan negaranya menjadi negara maju justru diawali oleh rasa percaya diri warganya. Bangsa Jepang misalnya mengalami traumatik saat Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 8 Agustus 1945. Namun, peristiwa yang traumatik itu justru membangkitkan bangsa dan negara Jepang untuk menjadi negara maju. Mengambil analogi peristiwa traumatik (penjajahan, tindak kekerasan di dalam negeri) yang pernah terjadi di Indonesia, bangsa Indonesia sepatutnya bangkit dan mengejar ketinggalan sehingga segera beralih dari negara berkembang menjadi negara maju.

Beberapa Aspek yang Mampu Membangkitkan Kekerasan dan Keberingasan Massa


Jika kita amati kondisi setelah masa reformasi sudah berjalan lebih sepuluh tahun, berbagai dimensi kehidupan masyarakat Indonesia semakin mengalami goncangan – kalau tidak boleh dikatakan ambruk. Mulai dari dimensi politik – walaupun oleh negara-negara “mbahnya demokrasi” dikatakan bahwa kehidupan demokrasi Indonesia saat ini sudah lebih menggembirakan. Akan tetapi jika dilihat dari sudutperilaku sosial, sebenarnya sangat menyedihkan, karena saat ini lebih mengedepankan konsepDemokrasi Liberal yang diadopsi dari negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat. Sedangkan kesiapan mental dan pola berpikir masyarakat Indonesia masih mengalami kesulitan dalam menyikapi liberalisasi disegala dimensi kehidupan. Sehingga menimbulkan kekacauan struktural yang semakin lama semakin kronis. Sebagai contoh kecil sering kita lihat, walau secara Hukum maupun aturan telah ditetapkan – bahkan kadangkala telah diputuskan oleh palu pengadilan – hak kepemilikan suatu lahan yang ditempati secara liar oleh masyarakat tertentu saat dieksekusi oleh aparat menimbulkan perlawanan yang bersifat anarkhis.

Belum lagi kebebasan pers yang mengatas namakan demokrasi, menjadi sangat over acting, sehingga justru menimbulkan gangguan dan merugikan hak-hak pihak lain. Media elektronik semakin bermunculan dalam rangka berebut kue pemirsa dan iklan. Mereka berusaha menyajikan tayangan-tayangan secara live (siaran langsung) pada pemirsa sebagai obyek manipulasi. Secara kultural mengarah pada manipulasi persepsi, pemikiran dan imajinasi khalayak secara membabi buta dalam bentuk iklan, berita kekerasan dan hiburan-hiburan negatif yang kontra produktip. Semua akan bermuara pada pembentukan opini yang bersifat subyektip secara terus menerus. Yang dikhawatirkan akan semakin memunculkan aneka sub-kultur baru.

Kini semakin kita rasakan adanya beraneka macam pola pikir dan sikap mental di dalam masyarakat Indonesia. Sehingga semakin sulit melakukan proses pelembagaan etos dan pandangan hidup baku secara nasional. Harapan memiliki etos dan pandangan hidup yang mampu dijadikan landasan strategi berpikir masyarakat, untuk segera keluar dari krisis multi dimensional malah semakin kandas. Sehingga yang dibutuhkan saat ini adalah menyusun kembali Karakter Bangsa, dan memperkokoh dimensi ekonomi menuju negara industri. Selanjutnya memantapkan hasil pembaharuan dimensi politik, yang berkaitan dengan penemuan bentuk konsep demokrasi asli agar sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia kini dan yang akan datang.


Jangan Mudah Terprovokasi


BANGSA ini rasanya sudah bukan lagi bangsa yang cinta damai. Buktinya, setiap timbul suatu masalah yang menyangkut kemasyarakatan, kesukuan, ras, keagamaan, kebangsaan atau yang bersifat nasional, ujung-ujungnya kekerasan. Payah!

Fenomena amuk massa berlangsung di mana-mana. Tidak jarang mengatasnamakan demokrasi (kebebasan), menggiring masyarakat pada tindakan anarki.

Kondisi kehidupan bangsa Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda ke arah perbaikan, tapi justru sebaliknya. Sepertinya, kekerasan dijadikan kebiasaan yang hakiki oleh bangsa kita bahkan mungkin ke depannya akan menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan keadaan seperti ini mustahil tercapainya negara yang adil dan makmur.

Kita memang harus secepatnya mencari akar permasalahan dan kemudian membenahinya. Idealnya kita bisa menghilangkan sumber utama kekerasan. Namun, itu terlalu lama dan tidak efektif, kita bisa saja memulainya dari diri kita sendiri untuk mengikrarkan stop kekerasan pada lingkungan yang pertama kali kita kenal yaitu keluarga.

Ajarkan bahwa kalau sampai bangsa ini terkotak-kotak, kebinasaan dan kehancuran akan terjadi. Pada dasarnya memang, kekerasan dan keberingasan salah bentuk luapan perasaan kecewa, dan sifatnya spontan. Tapi kalau rasa kecewa itu diluapkan dengan tindakan agresif, siapa yang rugi.

Kita semua perlu belajar memanejemen konflik dengan tidak terjebak dalam pemikiran yang salah dan gampang terprovokasi.

BANGSA ini rasanya sudah bukan lagi bangsa yang cinta damai. Buktinya, setiap timbul suatu masalah yang menyangkut kemasyarakatan, kesukuan, ras, keagamaan, kebangsaan atau yang bersifat nasional, ujung-ujungnya kekerasan. Payah!Fenomena amuk massa berlangsung di mana-mana. Tidak jarang mengatasnamakan demokrasi (kebebasan), menggiring masyarakat pada tindakan anarki.Kondisi kehidupan bangsa Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda ke arah perbaikan, tapi justru sebaliknya. Sepertinya, kekerasan dijadikan kebiasaan yang hakiki oleh bangsa kita bahkan mungkin ke depannya akan menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan keadaan seperti ini mustahil tercapainya negara yang adil dan makmur. Kita memang harus secepatnya mencari akar permasalahan dan kemudian membenahinya. Idealnya kita bisa menghilangkan sumber utama kekerasan. Namun, itu terlalu lama dan tidak efektif, kita bisa saja memulainya dari diri kita sendiri untuk mengikrarkan stop kekerasan pada lingkungan yang pertama kali kita kenal yaitu keluarga. Ajarkan bahwa kalau sampai bangsa ini terkotak-kotak, kebinasaan dan kehancuran akan terjadi. Pada dasarnya memang, kekerasan dan keberingasan salah bentuk luapan perasaan kecewa, dan sifatnya spontan. Tapi kalau rasa kecewa itu diluapkan dengan tindakan agresif, siapa yang rugi.Kita semua perlu belajar memanejemen konflik dengan tidak terjebak dalam pemikiran yang salah dan gampang terprovokasi.